31
Jan

5027

5027

Adakah artinya angka tersebut buat anda? Bisa Ya dan pastinya yang bilang tidakpun lebih banyak lagi. Sekedar tahu saja bahwa saya menuliskan angka tersebut karena ada sejumlah orang yang terbilang dengan angka tersebut. Yang saat ini dihinggapi penyakit ”Narcism”

Yang saya maksud mereka-mereka yang saat ini sedang memamerkan dirinya sendiri. Memamerkan wajahnya, mengenalkan kumisnya, memajang kacamatanya dan mungkin lengkap dengan atribut peci dan senyum sungging yang sedikit dipaksakan. Dan tentu anda bisa menebak sendiri ”narcism” yang saya maksudkan adalah mencaleg-kan dirinya.

Dan secara sangat kebetulan saya ternyata salah satu diantaranya. Diantara 5027 orang sebanten yang nama dan wajahnya beredar di seantero Banten. Nama dan foto saya nantinya akan ada diantara 5027 orang yang tercantum di kertas suara (meski untuk foto tentu hanya DPD saja) namun sudah kadung tersebar luas bahwa arena mengkampanyekan diri ini ternyata menampilkan dirinya sejadi2nya, meskipun pada saat nanti di kertas suara mereka yang memperebutkan kursi DPR dan DPRD hanyalah urutan nama-nama yang di bumbui dengan berbagai atribut gelar di belakangnya.

Diantara 5027 orang tersebut, saya merasa belum sepenuhnya terjangkiti oleh wabah pandemik penyakit ”Narcism”. Persoalannya bukan lantaran belum terinveksi, melainkan masalah dompet yang tak kunjung mekar-mekar sehingga sepertinya saya harus menahan diri sampai akhirnya dompet saya lebih tebal sedikit dari kesehariannya, karena jelas pasti akan sangat menguras energi sekali. Karena gesekan ATM tentu berimplikasi pada berkurangnya energi keseharian saya. Anda boleh menertawakan saya. Ambil contoh saja untuk mencetak 20,000 stiker saja saya harus menjual 2 buah komputer dan satu printer, itupun setengahnya di bantu oleh kawan-kawan yang tahu-tahu sms ”sudah ditransfer” kata mereka. Stiker saya ukuran mini sekali. Seperempat kertas folio.

Anda bisa membayangkan berapa yang harus dikeluarkan untuk mencetak 50,000 stiker ukuran double folio (8x ukuran setiker saya) dan berapa yang harus dikeluarkan untuk lebih dari 100,000 stiker setiap edisinya. Dan kalikan itu untuk 5027 orang. Masya Allah. Sungguh sebuah peluang bisnis yang menggiurkan. Dan saya menggerutu kenapa tidak bisnis percetakan. Dalam batin saya.

Meski ada sebuah keprihatinan yang mendalam buat saya, bahwa diantara para kaum ”narcism” tadi ada yang berasal dari uang yang sehat dan dari pandangan sekilas ada yang berasal dari uang yang kurang sehat atau bahkan dari uang hasil proyek-proyek yang bergulir di APBD, dan melihat defisitnya APBD Banten senilai 147,9 Milyar, saya tercengang masih ada kandidat Caleg yang notabene hidup dilingkungan APBD dengan gagahnya tanpa malu-malu bahkan over limit menurut ukuran caleg sendiri, sudah Kampanye layaknya calon kepala Daerah. Bahkan mengiming-imingi dengan voucher hadiah segala.

Adakah yang salah??? Menurut ukuran dompet anda mungkin tidak salah, meski demikian saya kira ada ukuran batasan moral yang hendaknya menjadi acuan, jika anda pengusaha besar dari hasil keringat sendiri mungkin anda boleh saja bebas-sebebas-bebasnya tapi kalau anda masih menggantungkan hidup pada APBD masih berkeliaran disektor pelat merah, masih bergentayangan dari DIP ke DIP yang lain. Saya kira ini menjadi problem karena defisitnya anggaran Banten boleh jadi memberikan indikator there is something wrong. Karena sebodoh-bodohnya masyarakat pasti melihat, mereka juga membaca koran dan mendengar radio, dan televisi belum lagi mereka juga berinternet ria. Jadi informasi itu akan cepat sampai tersuguh pada mereka.

Narcism ya narcism, tapi ya jangan Narcism amat lah. Apa artinya Baliho sebesar lapangan sepakbola kalau rakyat tahu betul dananya dari hasil “ngembat uang rakyat”. Apa artinya iklan di media setiap hari disemua media lokal dan nasional kalau rakyat sampai tahu bahwa Anda Anak pejabat atau menantu pejabat atau suami pejabat. Bukankah anda sedang mempertontonkan pengadilan cemoohan diri sendiri, bukankah anda sedang menyembunyikan senyum kerakusan anda yang tentu saja mengundang rasa jijik.

5027 orangbaik foto, kumis, kacamata, peci dan berbagai atribut lainnya bergentayangan seantero Banten. Tentu hanya orang yang sedikit gila saja yang mempertaruhkan segala sesuatunya untuk sebuah kursi yang belum tentu setelah mendapatkan dan memperoleh kursi tersebut anda makin dihormati, jangan-jangan anda bersiap-siap menyusul aktor-aktor politik yang saat ini tengah di ”satroni” oleh KPK.

salam kenal dan persahabatan

Mohammad Hamdan

(ingat Satu2nya dikertas suara DPD YANG PEGANG MIK)

Bookmark and Share
19
Jan

Menggugat!!!

sengaja saya posting surat anda di buletin ini untuk kita berbagi bersama dengan banyak teman dan sahabat lainnya.
Meilinda :
sorry bgt ya..saya pikir lbh baik kita urus negara kita yg idupnya jg banyak yg lbh susah..biar lah tu jd urusan mereka.bkn berarti kita gak peduli perdamaian dunia ya..kita pikir aja ngr kita apa uda bgs,semua jg kyk perang..cuma ini lbh halus,perang cucah cari mkn n pekerjaan…kl g sih berharap pd negara kita aja,buat istrael n palestina kita cukup berdoa aja supaya pedamaian dunia.thx
Teruntuk sahabatku Mei Linda, Sya mungkin bukan orang yang melihat tetangga Anda di mutilasi kemudian saya berdiam diri begitu saja.
dan saya bukan tipe orang yang melihat sebuah kesombongan atas nama apapun itu, membabi buta seolah Membunuh adalah “wajar” manakala pengaruh ideologi Salah secara Kaprah. dan benar secara chauvinist bahkan adil secara egoistik. ini jelas bukan sebuah kebenaran yang dimaksud dan bukan pula adil secara nurani. pasti ada yang salah dengan ajaran atau teologi yang melatar belakanginya.
ini pula yang saya teriakan ketika Amrozi cs meledakan Bom Bali, manusia harus di hargai secara manusiawi, kecuali mentalitas “master” yang memperbudak manusia dan manusia lainnya karena kebenaran yg bersifat “ascribed”. pendulum kebenaran menurut saya Nurani dan dari sanapulalah Tuhan yang maha benar menitipkan satu lagi Instrument bernama AKAL, sampai sejauh ini tentu anda mengerti bahwa membunuh anak-anak adalah tidak dibenarkan baik secara Akal maupun Nurani, dan mungkin saya dan banyak orang lagi didunia yang kerdil ini menggugat pembunuhan atas nama apapun, bahkan menggugat Hasrat untuk membunuh demi… sebuah Ketakutan Takut terbunuh (sebuah ketakutan yd dibuat oleh dirinya sendiri)
Terorisme Bukanlah faktor tunggal.
bagaimana kita mncerna ada orang malaysia bernama DR. AZAHARI yang NOTABENE satu rumpun mengobrak abrik bangsa tetangganya, menurut hemat saya itu sama dengan mencoreng mukanya sendiri.
dan menurut akal saya DR. AZAHARI. adalah hantu Blau yang sengaja diciptakan untuk mngentaskan bahwa memang ada Teroris di Indonesia, Ada Bom Maka Adalah Teroris, kita mngesampingkan berbagai fakta bahwa bahan peledak Bom Bali 1 Adalah semi nuklir yang pada beberapa tahun lalu hanya di kembangkan oleh Israel. (coba anda google-in aja)
lalu bagaimanakah perlawanan kita menghadapi jajahan Israel ini. jadi menurut Akal dan Nurani saya ini tidak Boleh dibiarkan, bahkan perlawanan ini harus lebih dari sekedar gugatan. Nyatanya memang banyak aparatus Israel di Indonesia, termasuk di berbagai lembaga tinggi Negara,. meski saya juga mengguggat mereka yang menuduh aliran pemikiran liberal adalah didanai Yahudi, justru menuduh dengan mengesamping dan menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya adalah TERORIS. fakta membuktikan bahwa didunia ini tidak ada satupun negara yang berani melanggar resolusi PBB hingga se-ABreq jumlahnya.
Fakta membuktikan mereka yang bertindak diluar konstelasi hukum adalah mereka yang membabi-buta memaksakan kebenaran.
ketika anda menyarankan saya “ngurusin” negara kita aja, tentu ada korelasi benang merahnya bahwa, KORUPSI, NEPOTISME, KERAKUSAN, KESERAHAKAN, NARKOBA, ANARKI adalah harus dilawan. ini tentu secara akal dan nurani. dan Nuklir hanya bisa dimiliki oleh Negara besar seperti Amerika dan Israel, kita tentu bertanya, kalau mereka menyerang kita dengan nuklir. anda masih bisa berpikir dengan akal kah? kalau anda melihat Anak anda kelak di bantai di depan mata anda sendiri, masih beranikah kita untuk melakukan pembiaran, saya teramat yakin anda pasti akan menggugat seperti cara saya menggugat.
setidaknya saya dan anda dan penduduk sebuah botol kecil bernama semesta ini memahami betapa keadilan adalah perjuangan, dan kebenaran adalah pilihan, dan Kesalahan adalah kekerdilan manusia dan bukan sebaliknya. GBU (semoga kita dilimpahkan hidayah kebenaran)
Bookmark and Share
18
Jan

MENG-INDONESIAKAN OBAMA

MENG-INDONESIAKAN OBAMA

Mohammad Hamdan

Pemerhati Indonesia Soft Power Studies

Calon Anggota DPD Banten 2009-2014

Lalu Obama pun menjadi Presiden, Sebuah Negeri Adidaya yang kita kenal demikian berpengaruh dalam berbagai konstelasi politik ekonomi, bahkan sosial dan Budaya. Setelah melalui Inagurasinya untuk dilantik secara resmi maka lengkap sudah ia menjadi Presiden Ke 44.

Ini situasi yang menantang tentunya tidak saja bagi dunia, bahkan juga bagi Obama sendiri, yang di warisi problem ekonomi yang berdampak global. Dan tentu Indonesia pula sedikit banyak terseret pada arus hilir setidaknya.

Sebagai negeri yang pernah di ”singgahi” oleh Presiden Ke 44 ini sepanjang sejarah fase kehidupannya Indonesia boleh berbangga, sebab difase-fase menentukan perkembangan psikologisnya tersebut Ia memberikan perhatiannya yang sangat besar. Boleh jadi ini tentu sedikit banyak akan berpengaruh pada perhatiannya bagi Indonesia

TENTANG MIMPI DARI SANG ”AYAH”

Selain jika di turut mengikuti jejak sang ibu yang mengambil banyak studi tentang perkembangan Indonesia. Juga sampai satu titik menurut Maya Soetoro (adik kandungnya satu Ibu) ternyata Obama terakhir kali datang ke Indonesia adalah tahun 1991, atau tatkala ia berumur 28 tahunan dan ia menyelesaikan sebuah buku Dream From My Father.

Ini menarik jika boleh berseloroh maka siapakah ”AYAH” yang dimaksud? ayah biologisnya atau ayah ideologisnya. Atau yang dimaksud sebagai ”AYAH” dibuku tersebut adalah simbol ”mentor”nya. Pembimbingnya atau arahan hidupnya, tentu saja hal ini seutuhnya hanya diketahui oleh Obama sendiri,

Meski demikian, lagi-lagi Indonesia boleh saja berbangga, karena menurut Maya Soetoro, sampai tahun itu pula dapat memahami masyarakat Indonesia secara lebih lengkap. Seperti yang ia ungkapkan sendiri pada adiknya tersebut. Di Indonesialah Obama Belajar seni memahami dan dibumi Nusantara ini pulalah ia belajar bernegosiasi dan berkawan dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Indonesia adalah tempat pertama ia mempelajari fleksibilitas. Lebih jauh lagi, Indonesia adalah tempat pertama ia memahami kompleksitas dunia. Seperti yang dituturkan Maya Soetoro, Lalu apa artinya ini buat kita bangsa Indonesia.

Indonesia dengan keanekaragaman kekayaan dan yang dengan sedikitnya kekayaannya adalah keanekaragaman itu sendiri. Menurut pendapat saya mengajarkan antusiasme pada Obama, bahwa dirinya adalah bagian dari keanekaragaman dan pemahaman keanekaragaman baik ke dalam diri Obama ataupun tentang pandangannya keluar memahami kompleksitas dunia tersebut.

Intinya Obama secara matang dapat mengelola dunia dengan multi perspektif. Dan secara sangat kebetulan sekali di dalam diri Obama sendiri mengalir Darah keanekaragaman tersebut. Ibu biologisnya An Dunham wanita ras kulit putih sedangkan Ayah Biologisnya adalah Arsitek ekonomi dari Kenya. Tentu dengan ras negro. Sedangkan Ayah tiri yang menjadi pembimbingnya selama usia belasan dan dikenalnya hingga kemudian ia merampungkan Buku tersebut adalah orang Indonesia, berlatar suku jawa, namun mengenal dunia metropolitan karena bersekolah ke Amerika hingga akhirnya berjodoh dengan Ibunya. Dan membawa serta ia dalam pengasuhan. Di Indonesia sendiri ia tinggal di Jakarta yang tentu saja Pluralitasya tak bisa terabaikan untuk memperkaya Nuansa pemikiran Obama. Dan sesekali singgah ke tempat orangtua ayah tirinya di Jogja.

MENGINDONESIAKAN OBAMA

Tidak seperti nama sebuah kota di Jepang sana yang memiliki Kesamaan dengan Presiden Amerika ke 44 ini, Mengindonesiakan Obama lebih berarti kepada menginventarisasi segala sesuatu yang berhubungan dengan mantan ”anak menteng” tersebut dan kemudian memposisikan serta memastikan kehadiran Obama menjadi bagian teramat penting dengan klaim yang pada akhirnya justru mampu ”mendongkrak” Indonesia dimata dunia.

Inilah kali pertama Indonesia disebut demikian banyaknya sebanyak berkait erat dengan Presiden Amerika yang fenomenal di Abad 21 ini. Seiring dengan popularitas Obama yang mendunia, teramat sayang jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dan menurut hemat saya inilah momentum emas. Golden moment yang rasanya keterlaluan. Jika harus hilang begitu saja.

Saya memiliki seorang sahabat bernama Stella Rissa, seorang perancang muda berbakat yang talentanya membuat saya berdecak kagum, karena dalam hitungan bulan saja ia sudah mulai mendunia bukan lagi sekedar menasional. Dan terakhir saya kontak ia sedang berada di Bali untuk membangun Pabriknya.

Belakangan saya tergelitik untuk mengajukan sebuah proposal pada dia untuk membuat merek STELLA RISSA-nya misalnya untuk captive jas, kemeja kaum Adam bernama STELLA ”O” RISSA, sehingga dengan sedikit silabus redaksional dan alasan disana-sini misalnya mungkin juga sedikit keluar dari pakem dunia fashion yang sudah mapan. Maka jadilah merek STELLA ”O” RISSA.

Dibumbui dengan Aksen O di tengahnya mengikrarkan bahwa Stella Rissa harus mendunia dengan segala perbedaan dan keanekaragamannya tentu saja. Dan modalitas keragaman adalah Indonesia sekali. Sehingga dengan mudah Dunia mengasosiasikan dengan Indonesia.

Atau dalam konteks pendidikan Indonesia bisa menjadi Par of Excelency dmana kita bisa saja membangun Universitas bertaraf Internasional dengan nama Obama misalnya dengan fokus pendidikan pada pembangunan sosial ekonomi yang membangun keberagaman dan teknologi yang menyelesaikan persoalan global kemanusiaan.

Untuk wisata mantan anak menteng ini bisa didaulat menjadi nama sebuah kompleks wisata alam The Obama Jungle Park misalnya. Dan ini bertaraf internasional sehingga pembukaannya dihadiri oleh Sasha and Malia, kedua puteri Obama, untuk mengingatkan mereka bahwa Ayahnya pernah bermukim di Indonesia.

Dan kepada dunia Internasional pesan yang kita sampaikan adalah ; jika puteri Presiden Amerika saja berlibur ke Indonesia, tentu saja dunia harus berlibur ke Indonesia, buakn tidak mungkin Genting Island akan lewat begitu saja dan pariwisata akan mengalami Booming. Inilah yang mesti kita lakukan agar Indonesia menjadi Pilihan dunia untuk berlibur. Indonesia Exotica..A place the world Can Rest.

Mengindonesiakan Obama tentu tidaklah semudah wacana dalam tulisan ini, namun setidaknya saya menghimbau, untuk mengingatkan betapa kita berada dalam situasi yang sama menantangnya dengan tantangan Obama mengairahkan ekonomi Amerika. Bukan tidak mungkin bahkan sebuah progres adalah sama pastinya dengan kemajuan itu sendiri tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Memang tidak mudah, namun teramat tidak pintar apabila kita tidak manfaatkan, Indonesia adalah keberagaman dan Obama adalah Aliran keberagaman baru dan Icon keberagaman baru dunia sehingga untuk saling melengkapi dan saling menghargai meski demikian tulisan ini terlepas dari apapun kebijakan Obama Nantinya namun setidaknya Indonesia bisa mengambil keuntungan secara tunai dan meyakinkan bahwa kita Bisa. AYO KITA BISA. YES WE CAN!

Bookmark and Share
12
Jan

Indonesiakah St Moritz?

Indonesiakah St Moritz?

Gugatan Terbuka Untuk Petinggi Negeri Ini

Mendengar sebuah mega proyek bernama St Moritz, decak kagum saya seraya saat itu juga ini pasti akan banyak sekali menyerap lapangan kerja, karena pasti akan sangat Padat Modal sekaligus juga tentunya akan sangat padat karya. Seandainya kita—atau proyek itu di Indonesia? Dan sayapun mengira itu sebuah baliho besar iklan property di negara luar sana, maklum saya membaca sekilas saja ketika harus juga berkendara.

Seperti judul diatas diatas Indonesiakah St. Moritz? YA, ternyata ia tak jauh dari rumah saya, masih dibilangan Jakarta Barat yang setiap harinya saya lewati, karena harus menunggangi jalan Tol Tangerang-Tomang untuk sampai ke tempat saya beraktivitas seperti biasanya.

Seketika itu juga timbul kekecewaan saya, bahwa kenapa harus memakai idiom asing? setidaknya bahasa Indonesia serta Bangsa Indonesia ini kaya dengan khasanah-khasanah yang ”berbau” Indonesia. Kenapa tidak terpikir Bang Pitung Penthouse & Residence?

Bukankah Pitung adalah Icon perjuangan rakyat Jakarta? Selain mengenalkan kembali kepada anak dan cucu kita, bahwa once upon a time ada legenda perjuangan melawan penjajahan Belanda juga kalau anda buat situsnya nama Bang Pitung itu saja sudah mendistribusikan khasanah ke-Indonesiaan untuk mendunia, kapan lagi Indonesia dan KeIndonesiaan melegenda sekaligus mendunia.

Pasti tidak lama dari itu akan muncul sebuah sinema yang mereproduksi film yang pernah di Bintangi oleh Artis Besar Indonesia Almarhum Dicky Zulkarnaen. Dan bukan tidak mungkin filmnya meledak dan tidak lama dari itu akan muncul berbagai anasir sosial dan budaya yang berimplikasi pada ranah ekonomi.

Meng-Indonesiakan Indonesia

Ada sebuah film laga aksi dari Thailand bertitle GARUDA, saya tercengang oh ya, kok bisa? Itukan bahasa kita kok bisa-bisanya dipake orang Muang-Thai. Sejurus kemudian saya tersadar belum ada satupun sinema Indonesia yang memakai kosa kata GARUDA. Lambang negara ini yang kita banggakan ini dan memiliki prestise ”kesaktian” dan tingkat kanuraga’an yang mumpuni dalam setiap nilainya. Sehingga tidak mengherankan Ia bisa diangkat menjadi sebuah title sinema yang diproduksi teman kita serumpun di Thailand sana.

Dan kawan kita serumpun tersebut ternyata jauh lebih jeli, karena mereka sangat sadar untuk memenangkan pertarungan Global ini kita sejauh mungkin memperbesar jejaring sambil menginventori apa saja khasanah yang bisa di klaim sebagai kekayaan mereka.Kita tentu sangat paham apa arti klaim tadidan implikasi ekonominya.

Mereka membenamkan peperangan besar bernama globalisasi justru dengan mengartikulasi klaim idiom-idiom, ini sama persis dengan kasus rasa sayang-sayange. Tak becusnya kita menggali kekayaan kultural warisan nenek moyang justru segera di pelihara dengan baik dan bernilai sangat profetisnya justru oleh ”kawan serumpun”

Serta memasukan kedalam jejaring komunikasi pencitraan tadi artikulasi Idiom yang mampu mengangkat citra KeIndonesiaan. Bukan saja itu melainkan juga mereklamasi prestasi para leluhur kita setingkat Maha Patih Gajah Mada, yang mampu mengukirkan penguasaan hingga sebagian filipina dengan sumpah palapa-nya, untung saja Soeharto sudah memakai Palapa sebagai nama satelit kita, karena jika kalah cepat bukan tidak mungkin jadi nama PLTN pertama di LAOS.

Seraya saya juga mengingatkan ada sebuah mega proyek di seputaran Jakarta ini yang menggelikan menurut nalar KeIndonesiaan saya, pertanyaannya sedehana saja dimanakah anasir KeIndonesiaan yang bisa kita letakkan?

Jujurnya saya mengguggat proyek-proyek seperti dan sebesar St Moritz yang justru tidak memakai sama sekali atribut dan unsur KeIndonesiaan kalau boleh tidak menggantinya dengan kata menghilangkan, kita boleh modern tanpa meninggalkan sejengkalpun keluhuran nilai budi dan pekerti lokal. Kita boleh tinggal landas dan memacu adenalin pembangunan namun teramat sayang meninggalkan lokalitas yang justru menjadi kekayaan dan modal kultural kita.

Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya kita 100 tahun lagi ketika anak-anak cucu kita sudah sangat familiar dengan grammar english, dan lupa dengan kosakata Bahasa, bahwa ada keunikan dan keluhuran yang bergitu bernilainya dari ke-Indonesiaan, ironisnya elo-elo pada tauk ga? yang bahkan Elo dan gue udah di adopsi abis, oleh tetangga serumpun. Jangan-jangan kita akan sekedar menjadi pasien rumah sakit korban lelaki, dan mendapat piala pusingan ketertinggalan budaya sekaligus ekonomi di abad mendatang. Sementara nyang punya kite dicomot tetangga, terus nyang kite pake malah kita mesti import.

Bagaimana mungkin anda bisa menduniakan Indonesia kalau anda tidak berupaya untuk meng-Indonesiakan Indonesia. Ini sebuah momentum sangat serius, dan sekali lagi ini juga menjadi cambuk menjadi paradigma kita sebagai bangsa yang bangga dengan sejarah, khasanah dan dirinya sendiri. Bukan sekedar meminjam milik bangsa lain. Apalagi itu sampai bernilai ekonomi yang tinggi, setidaknya dampak dan urutan komoditi budaya sebagai efek sampingnya saja sudah membuat lapangan kerja, apalagi proyeknya sendiri. Bukan begitu?

Pesan saya untuk para pejabat dan pemimpin negeri ini, mari tidak lengah menjaga dan mempertahankan kekayaan kita, satu-satunya cara bertahan paling ampuh adalah menyerang, maka seranglah pasar global dengan khasanah-khasanah kekayaan budaya kita. Mumpung sedang di galakkannya Tahun ekonomi kreatif, maka alangkah kecolongannya bila dari sisi budaya kita justru melakukan pembiaran anasir asing menguasai environment bangsa kita sendiri. AYO KITA BISA MengIndonesiakan INDONESIA.

Mohammad Hamdan

Penulis adalah pemerhati INDONESIA SOFT POWER Studies.

Fs/blogs : senatormudabanten@yahoo.com0818719069

Bookmark and Share
06
Nov

CALEG MODAL DENGKUL

Dengkul KUModal KU

MOHAMMAD HAMDAN

AKTIVIS UI REFORMASI ’98

Calon Anggota DPD RI Banten, dengan Modal ter-Dengkul

Bapak, Ibu, Akang-Teteh, Koko-Cici serta Saudara Sebanten Sekalian!
Perkenalkanlah saya MOHAMMAD HAMDAN, biasa dipanggil Aa Dadan Calon Anggota DPD RI Propinsi Banten Periode 2009-2014.Urutan Nama Saya ke 44, Di kertas suara Pas ditengah-tengah, Cuma Satu-satunya yang pegang Mikrophone. Insya Allah artinya lebih vokal, kreatif, energik dan merakyat.
ANAK SEMPU, Serang dan Besar di Karawaci Tangerang dari keluarga yang sederhana membuat saya begitu Paham kontur Banten secara sosiologis, KOK BERANI JADI CALEG? Justru karena tidak memiliki beban sedikitpun saya memperjuangan visi yang sudah bernyala sejak menjadi aktivis di Universitas Indonesia. Demi poros Keadilan, Kesetaraan, & kesejahteraan. KAMPANYE bukan ajang Pamer Spanduk, Baliho dan Iklan yang mahal-mahal. Ujung-ujungnya rakyat yang sengsara, Apapun dilakukan untuk Balik Modal. Kampenye adalah kontestasi ide, program, gagasan danpergerakan. Kampanye bukan sekedar uang semata yang berpotensi membodohi.
BANTEN harus menjadi Lumbung Energi Nasional, APBD Demi Kesejahteraan Bersama Keluarga Banten & Indonesia Bukan Lagi mimpi. Koruptor dan Pengedar Narkoba menjadi Musuh bersama. Dengan Dukung PLTN, Usul Perda Atur Ketat Poligami, Perberat Hukuman koruptor Kambuhan Dan Pengedar Narkoba dan Perusak Lingkungan adalah Penjahat laten, revisi segera Tenaga Kerja Kontrak.
SAYA CALON YANG SIAP KALAH Tidak perlu Jumawa Jikapun terpilih. Ini penting untuk memberikan Pendidikan Politik yang sehat Bagi Masyarakat.
SAYA Caleg Modal Dengkul. bangga menyegarkan ingatan bahwa Aspirasi Murni itu Anti politik uang, Anti KKN, Anti Kekerasan dan Anti Premanisme serta, Demokrasi seharusnya kreatif, santun dan beradab. Hemat & Merakyat intisari kampanye ini. Kunjungi FS dan YM : senatormudabanten@yahoo.com atau www.ayokitabisa.com. Dan Insya Allah Periode selanjutnya, saya akan mendukung Anda, Pacar anda, Teman anda atau Anak anda yang juga memiliki potensi untuk melakukan perubahan. PANTANG MENYERAH! NYALAKAN PELITA BAGI SEGENGGAM CITA.
Mohon Dukungan SMS Ke 9333 Ketik AKB MH (masukan, kritikan & Hinaanpun Insya Allah Ikhlas. (1000/sms) Semoga Banten Lebih Melaju Dengan Semangat Muda
*Dicetak Atas Donatur Bpk. Hery Sujarwadi Tangerang,”ANAK MUDA HARUS MAJU”
Bookmark and Share
14
Oct

Sekarang!

Sekarang!

Intro : Am, F, G

Ketika kau dan aku tinggal dalam satu semesta

Maka perebutan dan pertikaian adalah niscaya

Sebab kita manusia yang tak kenal rasa puasnya

Maka sadarlah akan akibatnya

Interlude

Ketika segala sumber daya tak lagi melimpah

Apatah lagi yang kan kita punya

Sebab hanya sebesar ini pertiwi untuk dijaga

Kelestariannya tentu tanggung jawab kita

Chorus

Gantilah..

Simpanlah Yang akan punah…

Sebab mereka

tak akan ada lagi gantinya…

Gantilah..

Sematkan bijaksana

Sebab kebajikan menuntut kita

Reff 1

Mari-mari kita Lestari kan alam raya

Mari-mari kita Bergerak bersama

Mari-mari kita Berubahlaaahhhhhh

Back to interlude

Reff 2

Mari-mari kita Lestari kan alam raya

Mari-mari kita Bergerak bersama

Mari-mari kita Buang yang tak guna

Mari-mari kita ajarkan anak2 kita

Mari-mari kita Berubahlaaahhhhhh

Sekarang……….

Sekarang……….

Sekarang…….. .. fade out

Bookmark and Share
14
Oct

YANG TELANJANG NAMUN BELUM TERJAMAH

ini baru sebagian contoh ada lagi yg ingin menambahkan dipersilahkan sekali atau kalau malu-malu dipersilahkan untuk kirim via email atau telp ke saya 0818719069 oke

Temuan Pemeriksaan BPK tentang korupsi Banten

1. Fasilitas Rumah Jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Yang Diberikan Dalam Bentuk

Tunjangan Perumahan, Ternyata Diberikan Juga Biaya Pemeliharaan Rumah Jabatan sebesar

Rp127.707.600,00, Tidak Sesuai Ketentuan

2. Pengeluaran dan Pertanggungjawaban atas Belanja Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi

Banten TA 2005 (s.d Oktober) senilai Rp2.597.817.400,00 Tidak Didukung Dengan Bukti

Yang Sah

3. Belanja Barang dan Jasa pada Pos Sekretariat DPRD Provinsi Banten Digunakan untuk

Kegiatan yang Tidak Sesuai dengan Peruntukannya Sebesar Rp384.500.000,00

4. Pengadaan Lahan Untuk Pembangunan Gedung Mapolda Banten Harganya Lebih Mahal dari

Harga Pasaran Tertinggi Sebesar Rp3.448.620.000,00

5. Pengadaan Jembatan Bailley Rangka Baja Knock Down Senilai

Rp1.272.568.000,00 Untuk Penanganan Darurat Tidak Siap Pakai, Di Antaranya Terdapat

Komponen Yang Kurang Diterima Senilai Rp55.069.000,00 Dan Denda Sebesar

Rp3.817.704,00 Belum Dipungut

6. Pembangunan Gedung DPRD Provinsi Banten Senilai Rp62.500.000.000,00 Dilaksanakan

Oleh Kontraktor Yang Tidak Memiliki Keahlian/Kemampuan Teknis Bangunan

7. Pemberian Addendum Perpanjangan Waktu atas Pelaksanaan 11 Paket Pekerjaan

Pembangunan Jalan dan Jembatan Tidak Sesuai Ketentuan Sehingga Denda Keterlambatan

Harus Dikenakan Sebesar Rp1.010.756.157,00

8. Pelaksanaan Pekerjaan Tiga Paket Pembangunan Jalan Tidak Sesuai Kontrak Sebesar

Rp349.990.510,71

9. Volume Pekerjaan Pada Dua Paket Pembangunan Jalan Dihitung Lebih Besar Senilai

Rp86.632.624,85 Dari Yang Seharusnya

10. Pelaksanaan Pekerjaan Rehabilitasi Situ Garukgak Tidak Sesuai Dengan Yang

Dipersyaratkan Dalam Kontrak Sebesar Rp6.615.860,0

11. Pelaksanaan Pekerjaan Perbaikan Tanggul Kiri Sungai Cidurian Terlambat Diselesaikan Dan

Belum Dipungut Denda Keterlambatan Sebesar Rp18.798.654,00

12. Pengadaan Obat Pada Dinas Kesehatan Provinsi Banten Dengan Dana APBD Senilai

Rp1.192.008.988,00 Fiktif.

13. Obat Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar Dari Pengadaan TA 2005 Senilai

Rp1.493.987.312,00 Belum Semuanya Diterima dan Di Antaranya Lebih Dibayar Sebesar

Rp1.070.142.045,00

14. Kegiatan Pengadaan Alat Kesehatan Lebih Dibayar Sebesar Rp5.137.455.309,00 Dan Kepada

Rekanan Belum Dikenakan Denda Keterlambatan Sebesar Rp264.044.000,00

15. Addendum Perpanjangan Waktu Atas Dua Pelaksana Kegiatan Di Lokasi RSUD Malimping

Tidak Layak Dan Terdapat Kekurangan Pekerjaan Sebesar Rp69.465.163,59

16. Pengadaan Incenerator Tidak Efektif dan Harga Ditetapkan Lebih Tinggi Sebesar

Rp240.841.600,00 serta atas Keterlambatan Pekerjaan Tidak Dikenakan Sangsi Denda

Sebesar Rp30.557.825,00

17. Pengadaan Barang Senilai Rp361.927.866,00 Belum Dimanfaatkan

18. Penyelesaian Pekerjaan Pembangunan SMA Cahaya Madani Banten Boarding School

Terlambat, Belum Dikenakan Denda Sebesar Rp 24.038.004,00, Dan Kelebihan Pembayaran

Sebesar Rp 56.984.623,02.

19. Penganggaran Bantuan Pendidikan Guru Swasta/Non PNS Dan Siswa Sebesar

Rp10.064.800.000,00 Tidak Sesuai Dengan Ketentuan Dan Di Antaranya Belum

Disalurkan Sebesar Rp 514.000.000,00

Bookmark and Share
10
Oct

Jeritan Hati Seorang RUPIAH

Rupiahku sayang, rupiah ku malang

Jeritan Hati Seorang RUPIAH

Mengapa hatimu bimbang

Bukankah sudah pasti badai pasti berlalu

Dan kabut mendungpun kan membiru

Membawa cahaya langit Sudirman dan Thamrin Jakarta

Bukankah sudah kita tahu betul

Dalam dua blok ini rupiahku terseok-seok

Malu-malu berhadapan dengan dolar

Sementara menggejala bahwa tarik menartik, turun naiknya tangga kursmu

Dulu selembar dolar untuk sepiring nasi

Sekarang selembar dollar untuk dua bakul nasi

Sungguh aku belum mau pindah kelain hati

Aku masih setia padamu

Menunggumu dititik-titik kritismu

Aku percaya rupiah belum sekarat

Masih tampak denyutnya biar samar-samar

Tapi sebagaimana Zinedine Zidan

Sebagai mana PSSI, aku masih cinta kamu rupiah

Nasib kita sama. Rupiah

Kita orang-orang awam yang terjepit kuasa

Nasib kita sama. Rupiah

Seperti juga mandulnya DPR kita yang tak berdaya biladatang bonus tiba-tiba

Nasib kita sama. Rupiah

Kita dijadikan alat saja untuk mengongkosi Doku-Men—Doku-Men bisnis yang selalu ramah dengan monopoli

Siapa bilang kau milik konglomerat nyatanya mereka punya selir di Singapura, bukan disingaparna

Jangan kelu bilang ….rrrru,,piah, sedangkan bilang dollar hapal diluar kepala beserta seri-serinya

Rupiah katakan rupiah, rupiah apa obatmu yang mujarab rupiah, agar kau bangun kembali tidak koma seperti saat ini.

Sudah waktunyakah reformasi politik

Kalau benar apa kata mills ; kekuasaan politik membawa implikasi kekuasaaan ekonomi, lebih baik engkau yang kuangkat menjadi pemimpin politik, rupiah. Sebab engkaulah yang berkuasa rupiah.

Rupiah selama ini kau sendiri tak setia pada kami rakyat-rakyat kecil ini.

Tak konsisten pendirianmu rupiah

Kini mau tidak mau kami juga yang menanggungnya

Bukan lantaran tiba-tiba kami jatuh cinta ini semua lantaran kami sengsara melihat ibu-ibu kami mengantri mencari nasi.

Rupiah, oh, rupiah.

Dulu kau selalu berpihak pada golongan itu-itu lagi

Sekarang mana buktinya, kalau mereka setia padamu

Rupiah. Akhirnya kau terjebak dalam keterisolasian yang menyebabkan kemandekan rupiah.

Okelah, kami akan membantu mu rupiah.

Tapi kobarkan semangatmu dulu rupiah, rapihkan barisan komitmenmu, tancapkan keyakinan diri yang mandiri

Bahwa kalau semua orang bisa punya rupiah

Tukarkan dolar-dolar dikantongmu dengan dirimu sendiri rupiah

Sebelum cerita jadi benci

Titipkan salam

Bahwa kami cinta kau rupiah.

Meski kami tau kau tidak cinta kami

Orang-orang kecil.. yang mengais mencari sesuap nasi bersama jeritanmu RUPIAH.

Bukit Tinggi

September 1997

Memoar ketika dalam perjalanan diseputaran Kota Bukit Tinggi Nan Indah, ketika bersama sekawan bersama melakukan Penelitian Pariwisata Atas Undangan Gubernur Sumbar. Hampir satu Bulan disana menikmati hisapan alam nan sejuk, menyaksikan hamparan alam Ngarai Sihanok, Jam Gadang dan tak luput menonton pertunjukan saluang (suling) di Medan Nan Balinduang yang tak jauh dari tempat kami bermukim di Istana Bung Hatta, singgah di berbagai Danau-danau besar melewati kelok ampe-ampe… wuih.. indah nian hamparan Indonesia….Insya Allah Banten Harus punya yang seperti Bukit Tinggi…….setidaknya Wisata adalah sumber daya yang tak ada habisnya bukan laksana dikuras seperti kekayaan alam.

Bookmark and Share
07
Oct

Memoar :Tinta Hitam Pilkada Banten

sayang, kalau sampai tulisan dan berkas-berkas tulisan ini hilang lantaran kompi seringkali kena godot bernama VIRUS. jadi mending taro aja di blogs. sekalian mungkin aja bisa jadi pelajaran berharga buat teman-teman di Banten yang saya rasa silent majority menginginkan perubahan.

aslinya sebenarnya sudah hampir jadi sebuah draft buku bertajuk TINTA HITAM PILKADA BANTEN. dan tiba-tiba aja serial tulisan saya di kompi menghilang entah berantah karena virus atau ada kekuatan supra natural dah… yang pasti akhirnya harus lemes juga karena sekian hari bikin tulisan malah ilang….

Kepada Yth :

Bapak Presiden Republik Indonesia :

DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono

Membongkar Konspirasi Dibalik Pilkada Banten

Sekecil apapun sebuah kecurangan, adalah sebuah perbuatan yang sangat nista.

Pilkada Banten, adalah bukti kongkret dari adanya sebuah konspirasi yang melibatkan elit politik dari tingkat local hingga elit politik nasional. Dan keterlibatan pelakon-pelakonnya begitu nista dan keliatan sangat telanjang. Permainan kata-kata yang di lakukan oleh Depdagri bahwa Ratu Atut hanya Pelaksana Tugas Gubernur Bukan Pejabat Gubernur nyata-nyata adalah bukti permainan semantik sekaligus sebuah keberpihakan birokrasional.

Tidak menjadi persoalan ketika Ratu Atut memang tidak mencalonkan dirinya sebagai Calon Gubernur, tapi kenyataannya Bahwa Ratu Atut turut ambil bagian dalam gelanggang persaingan memperebutkan kursi Gubernur Banten. Tetapi Perlu diingat Bahwa fungsi Atut sebagai Wakil Gubernur Aktif tetap Melekat. Dan ini sudah nyata bahwa Ratu Atut tidak bisa mendapatkan imunitas untuk tetap bertahan. Dan sudah sepatusnya mengundurkan diri.

Apa ilustrasi untuk seseorang yang memegang kendali kewilayahan baik dari segi aparatur, keuangan, logistik dan administratif. Selain sebagai penguasa. Sebagai pemegang kendali itu semua tentu kendali kekuasaan danpengaruh politik tetap berada ditangannya. Termasuk juga aparatus keamanan. Apakah definisi ini cukup kita kategorikan sebagai Pelaksana Tugas. Lalu tugas, wewenang dan kewajiban serta batasan apa yang dapat dikerjakan tentu perlu didefiniskan secara sangat jelas. Sampai sejauh mana batasan seorang Plt. Gubernur Ratu Atut sehingga dia mampu bersikap dan bekerja dengan Jujur dan Adil bagi setiap masyarakat Banten.

Ini tentu mengundang sesuatu dalam diri kita. DIMANA RASA KEADILAN ITU???

Keberadaan Ratu Atut sebagai Plt. Gubernur namun diakui sendiri oleh Pejabat Departemen Dalam Negeri. Bahwa fungsi dan tugas ratu Atut sebagaiWakil Gubernur Tetap Melekat. Sehingga ini berkonsekuensi yuridis bahwa status Ratu Atut adalah incumbent yang dalam merujuk pada UU 32/2004. Melarang Pejabat Gubernur dan Pejabat Wakil Gubernur untuk maju sebagai calon dalam PILKADA.

Kenapa Ratu Atut harus tetap bertahan? Sebagai Plt. Sebagai Pjb. Sebagai Wakil Gubernur, yakni adalah kendali birokrasional akan tetap dan masih bisa dipegang dengan pengaruh politis dan pengaruh admisnistratif-nya. Sehingga akan kami uraikan dibawah ini:

  1. Ratu Atut memegang kendali Birokrasional dan Aparatus serta Administratifnya hingga masa pencoblosan.

  1. Birokrasi yang dipegang Ratu Atut diupayakan memiliki keberpihakannya, sehingga pejabat-pejabat yang tidak sehaluan dan tidak dalam satu gerbong di non afktifkan. Dan ini terbukti dengan dinon aktifkannya 13 Pejabat dilingkungan Pemerintahan Propinsi Banten.

  1. Keberadaan dinas-dinas dilingkungan Pemerintahan Propinsi Banten dijadikan kepanjangan tangan untuk menjadi Birokrat partisan. Dan pelembagaan “team sukses” oleh aparat birokrasional ini dibuktikan dengan keterlibatan Pejabat-pejabat untuk turun ke bawah, atau ke tempat domisilinya untuk mempengaruhi warga dan lingkungan sekitar.

  1. “Team sukses” dilingkungan birokrasional ini menjadi alat ampuh untuk mengkampanyekan calon yang sementinya “haram” ikut melaju kegelanggang mengingat posisinya yang seharusnya jsutru netral.

  1. Dibuatnya pemetaan dan survey kewilayahan dan pendudukan hingga pada tingkat Pemetaan calon Daftar Pemilih, pada berbagai wilayah. Dengan melibatkan konsultan politik terkemuka. Untuk dapat dikendalikan dengan mengupayakan berbagai intervensi agar pemetaan Daftar calon Pemilih dapat di uji coba.

  1. Proses Pemetaan calon Daftar Pemilih ini melibatkan baik secara resmi dan prosedural yakni Disduk (dinas kependudukan).

  1. Hasil Pemetaan Daftar calon Pemilih dengan sangat baik dan sangat rapih dilakukan sebuah intervensi dan strategi yang sistematis dengan masukan dari sebuah lembaga konsultan politik terkemuka.

  1. Sekalipun pemutakhiran data Daftar calon pemilih telah melalui 2 (dua) tahapan Coklit (pencocokan dan penelitian) pada bulan Juli dan September, namun hasil Daftar calon Pemilih sesungguhnya telah mengalami “pensortiran”, ‘eliminasi” “pengacakan” serta “pensiasatan” dimana sekitar 10% hingga 35% data Daftar calon Pemiih Tetap akan menjadi “fraud”., hilang atau teracak.

  1. Pensiasatan yang dilakukan adalah dengan cara kamuflatif dan terkesan hanya sebagai kesalahan administrative biasa. Sehingga akan dijumpai kasus-kasus sebagai berikut ;

    1. Kartu pemilih Dobel—dimana seseorang dengan nama, alamat dan tanggal lahir yang sama memiliki Kartu Pemilih yang ganda bahkan hingga rangkap 4.
    2. Pengacakan daftar pemilih—dimana seseorang dengan nama tanggal lahir yang sama, akan berada diluar wilayah dan domisili dari kedudukannya dan wilayah dimana seseorang akan sepatutnya memilih di TPS masing-masing. Ini dijumpai dari banyaknya kesaksian warga, Ketua RT, RW dan juga Ketua PPS nya. Dimana mereka tidak mengenal hampir sekitar 10% hingga 35 % warga. Sehingga dikenal dengan istilah Pemilih Siluman, sementara disisi lain warga yang tidak mendapatkan Kartu Pemilihnya merasa sangat heran karena namanya tidak terdapat dalam DPT diwilayahnya tempat mereka berdomisili. Bahkan diketahui hingga beda kelurahan.
    3. Kesalahan penulisan nama—dimana seseorang yang bernama Dina Hamdani diganti dengan Dona Hamidan. Ini jelas ketidak-sengajaan yang disengaja. Kesengajaan yang dibuat agar keliatan tidak sengaja dan tidak terencana. Sehingga kesengajaannya justru dapat terkamuflatif.
    4. Dan berbagai kasus lainnya. Sehingga data Daftar Pemilih Tetap yang mutakhir justru sangat diragukan validitasnya.

  1. Waktu pembagian Kartu Pemilih kepada warga masyarakat diperlambat. Yakni hampir keseluruhan TPS menyatakan bahwa Kartu Pemilih baru mereka dapatkan H-2 menjelang pencoblosan. Ini tentu saja didesain untuk mengurangi ekses kritis dari warga dan banyak pihak termasuk juga pers, sehingga akan dengan sendirinya dianggap sebagai kesalahan yang biasa, dan hanya persoalan “kelalaian administratif”

  1. Sesungguhnya yang terjadi adalah adanya upaya terselubung, yang dilakukan dengan sangat terencana, baik, rapih, serta sistematis, sehingga hasilnya adalah mengupayakan terjadinya Golput secara sangat disengaja. Dimana orang dianalisa dari status, latar belakang pendidikan serta wilayah, lingkungan dan kemerdekaan berpolitiknya sehingga menghasilkan kesimpulan untuk masuk atau di—Fraudnya seorang warga Negara yang memiliki hak politik dari Daftar Calon Pemilih. Terutama sekali didaerah perkotaan dan dengan latar belakang dan afiliasi dan afirmasi politik yang dewasa dan merdeka.

  1. Sehingga pemetaan atas lumbung suara bagi kandidat Ratu Atut menjadi Solid sedangkan pesaingnya dilumbung konstituennya “dikerjain”, “diacak-acak”. Sehingga tentu saja akan mempengaruhi skor hasil akhir dari keseluruhan proses penghitungan suara.

  1. Ini dapat disandingkan dengan data bahwa Mayoritas TPS yang dimenangkan oleh Ratu Atut tidak lebih dari 40% sementara pesaingnya terutama Pesaing terdekatnya yakni Zulkieflimansyah dan Marissa Haque justru mampu memenangkan lebih dari 50 % TPS dari 12.841 TPS. Yang ada diwilayah Banten.

  1. Tujuan dengan adanya pengacakan data Daftar Pemilih Tetap ini terutama sekali untuk mengganjal lawan politik dari incumbent untuk memperoleh suara yang dapat mempengaruhi skor akhir. Dan untuk konteks Banten dapat di cirikan secara mudah, masyarakat yang dinamikanya tinggi. Dengan latar belakang sosial, pendidikan, dan kemerdekaan memilih menjadi rentan karena bisa dipastikan setidaknya menginginkan beralihnya kekuasaan. Alias tidak mungkin memilih incumbent.

  1. Kemudian diketahui KPUD mengeluarkan keputusan bahwa pemilih dapat datang ke TPS dengan hanya menggunakan KTP. Persoalannya kemudian adalah pemilih tidak mendapatkan informasi tersebut secara cepat. Dan KPUD tidak mampu dan sangat terlihat pasif untuk mensosialisasikan secara menyeluruh kepada segenap warga Banten. Kelambanan ini menimbulkan kecurigaan yang cukup berdasar karena Menurut Direktur Eksekutif CETRO. Hadar Nafis Gumay, DPT merupakan point yang sangat krusial menimbulkan konflik dalam PILKADA terutama sekali karena dapat menguntungkan incumbent dan ternyata terbukti Benar.

  1. Fakta bahwa keseluruhan jumlah pemilih di banten hanya sekitar 3.595.582 an pemilih dari potensi pemilih yang berjumlah 6,2 juta orang. Yakni hanya sekitar 60,4% saja dan sisanya adalah Golput. Dengan karakteristik 20% Golput by desain, 10 % Golput ikutan, biasanya karena orangtuanya tidak mendapatkan Kartu Pemilih, anaknya atau istrinya jadi tidak memilih, dan 10% sisanya adalah Golput murni dengan tingkat partisipasi politik dan awareness yang minim. Dilihat dari berbagai survey dimana tingkat antuasme warga Banten untuk PILKADA sangat tinggi. Berbeda sekali dengan yang saat ini terealisasi.

  1. Sementara diketahui adanya keputusan diterimanya Judicial Review pasangan Irjad Djuwaeli dan Mas Ahmad Daniri di Mahkamah Agung. Disikapi oleh KPUD justru dengan tergesa dan seolah tidak mengindahkan adanya Keputusan tersebut.

  1. Dan hal yang sangat mengherankan adalah saat Jumat 24 November 2006. KPUD, bersama dengen MUSPIDA ; Ketua DPRD, Kapolda, Ketua pengadilan Tinggi, Sekda Banten, Bersama dengan Plt. Gubernur Ratu Atut Chosiyah, menemui Mendagri di Jakarta. Pertemuan yang tertutup bagi kalangan pers tersebut menghasilkan bahwa, PILKADA tetap dilaksanakan tanggal 26 November.

  1. Keinginan pasangan Irjad Djuwaeli dan Mas Ahmad Daniri adalah adanya penundaan Pencoblosan, sehingga harus di “clear”-kan terlebih dahulu status dari Plt. Gubernur Ratu Atut. Sehingga yang bersangkutan seharusnya sudah mengundurkan diri sejak pendaftaran dirinya sebagai calon. Dan yang mengherankan adalah, KPUD yang dalam Hal ini sebagai wasit seharusnya dapat bertindak adil.

Dan apakah dampak dari di mundurkannya Jadwal PILKADA :

  1. Masyarakat pemilih, sebagai calon pemilih yang namanya tidak tercantum dalam DPT atau DPT yang sesungguhnya telah “dikerjain” tersebut menjadi terbangunkan dan kemudian akan menuntut haknya sebagai calon pemilih. Dan besar kemungkinan akan menjadi gerakan yang massif mengingat diasumsikan sangat besarnya perorangan yang tidak mendapatkan Kartu Pemilih tersebut, yang menurut beberapa sumber sudah mencapai 310.000 orang. Sehingga akan bertambah hingga 1,2 juta orang lagi. Mengingat rata-rata tingkat partisipasi PILKADA mencapai 79,2 % diseluruh Indonesia..
  2. Masyarakat Pemilih akan dapat informasi scara jelas bahwa mereka dapat memilih cukup dengan KTP mereka masing-masing. Tentu akan membuat data yang sudah didesain ari awal oleh lembaga konsultan Politik Incumbent—Ratu Atut akan—Fraud dengan sendirinya sehingga tak terkontrol lumbung suara mana yang akan membesar dan mengecil.
  3. Kemungkinan diperbaikinya DPT secara ringkas cepat oleh tenaga yang professional.
  4. Terkuaknya strategi kecurangan dan konspirasi untuk memenangkan calon Ratu Atut. Sehingga akan berdampak pada munculnya lagi suara-suara miring sebagai dampak ikutan dari semakin nyaringnya terkuaknya kecurangan demi kecurangan.

Demikian Merupakan analisa dan bahan yang kami dapat kumpulkan, dengan penuh pengharapan kami sangat boleh berharap bahwa proses pembelajaran demokrasi masyarakat Banten justru menjadi pelajaran maha berharga bagi perkembangan demokrasi Indonesia yang sesungguhnya dimasa depan.

Dan terlebih Banten merupakan bufferstock bagi demokrasi nasional karena mengingat letak geografisnya yang sangat dekat menuju Ibukota. Tempat segala pentas termasuk panggung politik nasional menjadi sandaran. Bagi tumbuhnya demokrasi di Indonesia ini.

Dan Tak lupa bahwa Banten adalah surga bagi peredaran narkotika dan penyelundupan tingkat nasional dan internasional, karena aparatus nya sangat lemah sehingga disinyalir gampang disuap dan tentu terbudaya Korupsi yang sangat merupakan Penyaklit Kronis bangsa ini yang menghalangi Bangsa ini untuk maju menancapkan diri di percaturan persaingan global.

Apa lagi yang kita bisa wariskan kepada anak cucu kita apabila Kita membiarkan Banten menjadi contoh tempat kekuasaan dapat dibeli dengan Uang, dan Kekerasan ; baik fisik maupu kekerasan spiritual. Sehingga hanya akan mewariskan Banten yang Bodoh dan terbelakang, ironisnya karena letaknya yang sangat strategis Banten justru menularkan penyakitnya pada daerah lain di bumi nusantara ini.

Wassalam.

15 Desember 2006

Kontemplasi Jumat dini hari hingga subuh.

DN.

aslinya sebenarnya sudah hampir jadi sebuah draft buku bertajuk TINTA HITAM PILKADA BANTEN. dan tiba-tiba aja serial tulisan saya di kompi menghilang entah berantah karena virus atau ada kekuatan supra natural dah… yang pasti akhirnya harus lemes juga karena sekian hari bikin tulisan malah ilang….tp semoga cita-cita preubahan di Banten ini ga akan pernah hilang oke. apalagi sudah memberanikan diri untuk menjual XENIA …eh maksudnya mencalonkan diri menjadi Senator Banten meski Xenia kreditan itu harus ku over alih buat nambah2 biaya cetak mencetak dsbnya…. Insya Allah tidak menjadi sia-sia. demi setoreh mimpi. good bye… My B 1787 CQ.. aku relakan… kok..

Bookmark and Share
21
Sep

PLTN Dan Ruang Perebutan Kuasa

PLTN Dan Ruang Perebutan Kuasa

Mohamad Hamdan
Mantan Aktivis UI ‘98
Calon Anggota DPD RI 2009-2014. Prop. Banten

JIKA boleh jujur, maka frasa kunci dunia yang berlaku saat ini “sebuah arena pertarungan kepentingan antar negara meraih kekuasaan dan kekayaan serta posisi dan struktur internasional” dan dengan sendirinya melahirkan paradigma kunci yang kedua yakni “Benteng pertahanan yang kokoh untuk menjamin keamanan adalah bersiap untuk berperang”.

Dalam pemikiran, Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis. Ia mengemukakan konsep Field, yakni arena sosial dimana orang berstrategi dan berjuang untuk mendapatkan sumber daya yang diinginkan. Field disebut juga sebagai sistem dari kedudukan sosial yang terstruktur secara internal dalam hubungan kekuasaan. Field memiliki otonomi, dan semakin kompleks suatu masyarakat, maka semakin banyak field yang terdapat didalamnya. Lalu munculah sebuah penanda arena bernama Globalisasi.

GLOBALISASI bukanlah sebuah arena kerjasama internasional. Justru ia menjelma sebagai arena pembasmian persaingan dan pengkultusan untuk menciptakan penundukan pada mekanisme “hegemoni” pasar. Dalam pandangannya Faisal Basri, ekonom UI, Hukum Pasar dan Tunduk pada mesin pasar merupakan dua entitas yang jelas sangat berbeda.

Meningkatnya pola konsumsi energi yang hampir merata diseluruh dunia, telah dengan sendirinya mencetuskan berbagai persoalan, kelangkaan suplai, membumbungnya harga BBM sebagai akibat semakin menipisnya sumber energi fosil. Dan deretan problema kisaran semakin tirisnya cadangan minyak bumi ini. Telah memicu Kepanikan Global—Global Panic.

Bahkan persoalan pencarian sumber energi baru yang menjadi alternative juga tidak kalah paniknya. Justru malah menjadi arena tarik menarik kepentingan. Terutama sekali adalah persoalan energi nuklir. Disatu sisi dunia membutuhkan energi alternative yang murah dan efisien, namun disisi lain teknologi ini menjadi sumber kekhawatiran atas perdamaian dunia.
Hampir dapat dipastikan persoalan energi alternative yang paling sensitive adalah penggunaan energi nuklir. Dan terutama sekali PLTN, sebab pada gilirannya teknologi ini memang berpotensi menjadi senjata mematikan, meski demikian terdapat prosedur dan teknologi yang berbeda untuk menjadikan energi listrik dan senjata disisi lainnya.

Meski demikian pembangunan PLTN bukanlah persoalan keselamatan, ramah lingkungan dan sampah radioaktif, persoalan PLTN lebih menyeruak sebagai bagian pertarungan perebutan kekuasaan sesungguhnya. Karena Ia beroperasi sebagai monumen kekuatan ekonomi sekaligus teknologi, mulai dari energi murah sampai masalah pertahanan serta peta kekuatan regional.

Sehingga PLTN sendiri menjadi isu strategis yang justru menjadi kekuatan baru dalam peta kompetisi global dan sampai disini kita sama sekali belum membahas Nuklir berkaitan dengan penggunaannya dalam militer. Sehingga isu PLTN sendiri menjadi wacana pertahanan tanpa sedikitpun mengaitkannya dengan kekuatan militer atau pengayaannya untuk bidang militer, sehingga boleh jadi wacana PLTN justru mampir sebagai Kekuatan soft power.

NUKLIR BUKAN SEMATA TEKNOLOGI

Segala macam praktik, seperti seni penggambaran, komunikasi dan representasi, yang mempunyai otonomi relatif dari bidang-bidang ekonomi, sosial, dan politik dan yang sering muncul dalam bentuk-bentuk estetis. Film, Televisi, Drama, dan Novel menjadi semacam media yang mengembangkan perannya sebagai industrialisasi citra. Terutama penting sekali mendukung laju ekonomi dan berimbas pada diplomasi. Sehingga penggambaran karakter sebuah nation berhubungan erat dengan gairah dalam ekonomi, sosial dan politik masyarakatnya.

Jika dideretkan bukan isapan jempol bahwa terdapat korelasi yang cukup signifikan, Negara-negara yang maju dengan kepemilikan mereka terhadap teknologi nuklir, baik dengan alasan PLTN maupun pengembangan kekuatan militer. Ini jelas bukan persoalan semata sebuah program teknologi atau pembangkit listrik, melainkan didalamnya pertarungan budaya, ekonomi, sosial dan politik. Sehingga sadar atau tidak, Nuklir menjadi soft power tersendiri sekalipun ia adalah bagian dari hard power.

PLTN bukanlah persoalan listrik dan ekonomi semata, melainkan juga perubahan pola kekuasaan dan hakikat kekuasaan itu sendiri. Perubahan perilaku budaya kekuasaan. Contoh yang paling gamblang adalah Cita-cita Iran untuk melakukan diversifikasi sumber energi menggunakan tenaga nuklir.

Isu program proliferasi nuklir Iran tidak semata persoalan pengembangan teknologi atau sumber energi alternatif, tetapi telah menembus ranah yang lebih luas yaitu geopolitik dan keseimbangan kekuatan regional di Timur-Tengah. Kedua aspek terakhir ini, meminjam terminologi Ben Tonra (2001), termasuk ke dalam domain kompleks keamanan (security complex) dan tirai keamanan (security overlay). Di bawah Mahmoud Ahmadinejad yang menjabat presiden sejak 2005, Barat—khususnya AS—mengkuatirkan Iran bisa mengoyak tirai keamanan regional yang bagi Barat merupakan Beton yang membentengi kompleks keamanan yang di dalamnya menyangkut eksistensi Israel.

Kentara sekali perbedaan standar sikap dan intensitas manuver AS dalam penyelesaian krisis nuklir Korea Utara. Bagi AS, Iran sebagai sebuah kekuatan nuklir jauh lebih besar bahayanya terhadap kompleks dan tirai keamanan Israel, sebagai satu-satunya kekuatan nuklir di Timur-Tengah, dibanding Korea Utara. Bahkan dalam kasus nuklir di Brazil misalnya, AS menerapkan standar yang lain.

Meski demikian jangan dikira isu dan ketegangan relasi Washington dan Teheran sendiri tidak berimplikasi secara ekonomi, terutama elit-elit dikedua belah pihak, bagi Iran tentu dengan sendirinya kenaikan Harga minyak dunia akan menambah bengkaknya pemasukan mereka, dalam satu kuartal saja dari 2007 hingga maret 2008, Iran didapuk 80 miliar dollar dari penjualan migas yang terus meroket itu, sementara di Washington, terutama segelintir elit Neocons yang menguasai bisnis minyak mereka tentu menikmati wind fall yang tidak sedikit. Dan bukan tidak mungkin ada semacam “pelanggengan” atas ketegangan ini untuk tidak dibilang semacam konspirasi terselubung.

TUNDUK PADA DONGENG

Sebagai bangsa dengan mayoritas penduduk muslim terbesar didunia, kita boleh dikatakan jauh tertinggal, seringkali dalam segi diplomasi kita tidak berarti menghadapi tekanan luar yang dengan mudahnya menentukan ”domain” mereka sekalipun di negeri kita sendiri, kita hanya terdiam dan menyaksikan tanpa memberikan sedikitpun ruang untuk menyanggah.

Dan saya meyakni dibalik itu semua ada operasi kuasa yang sangat terselubung yang menjejali ruang berpikir masyarakat kita. Dan ini sengaja untuk terus dilanggengkan melalui aparatus yang juga terselubung, Dongeng tentang ketakutan kita pada PLTN boleh jadi merupakan sebuah ketakutan yang sengaja di reproduksi.

Karena ini akan berkonsekwensi lahirnya kesadaran baru dari sebuah “nation” dalam konteks diplomasi melakukan renegosiasi dari hasil “rampasan perang diplomasi” berupa konsesi-konsesi dan deal-deal yang lagi-lagi berujung pada sumberdaya. Boleh jadi Freeport, Blok Cepu, LNG Tangguh, dan sederet nama-nama sumberdaya kita yang benar-benar terpaksa diobral sebagai bagian dari tunduk pada mesin-mesin pasar.

Jika kita memiliki PLTN bukan tidak mungkin Freeport sekalipun akan berpikir seribu kali untuk mensponsori gerakan separatis di Papua, jika tidak ingin kita putuskan kontrak karya mereka, sehingga kongres AS akan seribu kali berpikir ulang untuk menekan Indonesia untuk sekedar mencari “Tips” dari sponsor kampanye politik mereka.

Untuk sekedar menyuguhkan objektivitas atas dongeng tersebut Di “kampung” saya sendiri Banten, tepatnya di Serpong, di “Markas” Puspitek ternyata kita sudah memiliki reaktor yang menurut beberapa referensi kekuatannya hampir sama dengan HTR-10 yang dimiliki Cina. Ini artinya putra-putri Indonesia sendiri sudah mampu menekuni teknologi Nuklir puluhan tahun lalu.

MASIH saja terus meringkuk di sudut ketakutan kah kita? atau berupaya mengumpulkan bukti bahwa PLTN tidak aman? dan Nuklir ternyata sebuah khayalan yang hanya boleh dimiliki kaum tiran seperti Amerika dan sekutunya, inikah yang mengakibatkan kita kehilangan Sipadan dan Ligitan dan juga Timor Leste?

Meski demikian saya masih percaya bahwa memang ketakutan terbesar manusia, adalah ketakutan itu sendiri. Pada titik ini pula yang dituntut adalah kesadaran kolektif semua pihak dalam meninjau PLTN, mari melihat bahwa di balik kepentingan golongan dan individu masing-masing cobalah membuka dengan kacamata realisme, yang justru terdapat kepentingan regional dan internasional yang jauh lebih besar.

PLTN boleh jadi akan punya andil untuk melawan ketidakadilanstruktural yang kadung meluruhkan kepercayaan diri bangsa-bangsa yang terdominasi. Penolakan justru melanggengkan keengganan untuk merubah struktur yang kadung tidak adil. Dengan satu alasan saya tergelitik dengan teman saya bahwa, dari belajar PLTN kita dengan cepat mentransfer untuk belajar rudal. Tentu bukan untuk berperang melainkan kita memang perlu etalase yang sekaligus menjadi pemacu anak-anak negeri ini bangkit. Bahwa kita bisa. Ayo Kita Bisa!

senatormudabanten@yahoo.com
Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah Forum Keadilan edisi 21 tgl 21 September

Bookmark and Share